Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2023

“KATA BINTANG” RUMAH SEDERHANA MERAIH BINTANG


Gerakan Literasi Nasional yang digalakkan oleh pemerintah, sejatinya tidak akan berhasil tanpa dukungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Sekuat apapun sekolah mendorong siswa untuk menggalakkan mencintai buku, hasilnya tidak akan optimal jika tidak ada dukungan dari masyarakat dan keluarga.

Menjadi anggota Gurusiana sejak oktober 2018 menggugah kesadaran Penulis untuk menularkan gairah literasi tidak hanya pada diri sendiri, melainkan juga pada keluarga bahkan masyarakat. Penulis berasumsi bahwa membangun masyarakat yang literat harus dimulai dari keluarga yang literat.

Libido untuk terus berkarya semakin hari semakin meningkat, sementara usaha untuk menggiring keluarga menjadi keluarga yang literat belum juga membuahkan hasil. Akan kah semangat ini harus mati perlahan tanpa dukungan? Tidak, aku harus keluar mencari rumah aspirasi atau membuat rumah baru yang penghuninya mempunyai misi yang sama memajukan literasi.

Dokumen Lounching Pertama Kata Bintang


Pada tanggal 15 Agustus 2019, Pengarang buku Batman Teacher, Widayanti menghubungiku untuk ikut bergabung dalam urun rembuk merintis sebuah komonitas kepenulisan di Kab. Sumenep. Tidak butuh waktu lama, tiga hari setelah itu kita positif berkumpul untuk membentuk kepengurusan dan sekaligus pematangan nama dan slogan komunitas. Rapat yang digelar di Kafe Barito Kab. Sumenep itu berhasil menetapkan nama komonitas dengan ”Kata Bintang”. Sementara kepengurusan yang terbentuk sebagai berikut;

Pembina                    : 1. Ahmad Fausi

                                      2. Bambang Iriyanto

                                      3. Abd. Kadir

Ketua                         : Widayanti

Sekretaris                  : Andilala

Bendahara                : Muhajir

Penjab Puisi             : Nok Ir

Penjab Non Fiksi      : Taufikurrahman

Penjab Cernak         : Nurhasanah

Penjab Fiksi              : Juwairiyah Mawardi dan Alfin Nuha

Publikasi&penerbitan          : S.Heriyanto dan Liza Ulfa Maesura

Setelah kepengurusan terbentuk, kita semua intent mengadakan pertemuan untuk persiapan lounching Komunitas “Kata Bintang”. Komonitas yang sebelumnya bernama “Sumenep Berkarya” ini mencoba keluar dari sifat kedaerahan dengan berubah nama menjadi Komonitas “Kata Bintang”. Semangat para pengurus telah membuahkan hasil, tanggal 25 Agustus 2019 Komonitas “Kata Bintang” resmi di luncurkan. Slogan kita di komunitas ini adalah “kita adalah bintang di langit masing-masing.”

Komunitas Kata bintang yang dibangun atas dasar kekeluargaan, kini sudah beranggotakan lima puluh orang dari berbagai daerah di Indonesia. Pesertanyapun beragam dari berbagai lintas generasi dan profesi. Dengan semangat meraih bintang di langit masing-masing, pada tanggal 25 Agustus 2019 bersamaan dengan peluncuran Komunitas “Kata Bintang” berhasil bedah karya 9 buku karya anggotanya.

Disatu tahun usianya, Komonitas “Kata Bintang” Membuktikan eksestensinya dengan karya. Pada tanggal 23 Agustus 2020 kembali berhasil melounching19 buku, Pada tanggal 31 Desember 2021, “Kata Bintang” kembali menggelar event tahunan dengan melounching 52 Buku, dan terakhir kemaren pada tanggal 18 Desember 2022 KB tak bosan menyapa para pemangku kepentingan melalui tema "Selebrasi Merdeka Berkaya" sekaligus lounching 75 karya selama tahun 2022. 

Semua even di komonitas ini, baik event-event spektakuler atau yang sederhana, mereka lakukan dengan modal patungan semua anggota. Bahkan, Kata Bintang bisa melaksanakan acara rutin bulanan yang diselenggarakan secara bergantian di rumah anggota untuk memperkuat empati dan simpati sesama mereka.

Penulis merasa bangga hidup bersama orang-orang hebat, dan selalu dipertemukan dengan orang-orang hebat. “Bersama kita bisa” mungkin itu slogan yang pantas kita pajang dan kita pegang, disaat kita sulit menemukan orang-orang yang cinta dan mau menghargai sebuah karya. Dengan antologi kita bisa bersinar bersama, dan dengan karya solo kita bisa saling menghargai karya masing-masing dengan saling membeli dan membarter karya masing-masing. Tidak ada karya gratisan dalam komonitas “Kata Bintang.”

Bedah karya mingguan, diselenggarakan demi bisa saling koreksi dari masing-masing karya yang kita tulis. Disinilah kita saling asah dan saling asuh dengan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing anggota. Penulis sangat bangga menjadi bagian dari pendiri Komonitas ini, meski sebagai penulis pemula, penulis merasa dihargai dan mendapat angin segar untuk selalu berkarya tanpa lelah. Semoga komunitas ini bisa melahirkan komunitas-komunitas baru hingga ke pelosok-pelosok desa*.


*Perlu di agendakan untuk para petinggi agar kedepan kita punya kordinator di setiap wilayah kecamatan sekabupaten sumenep.


Jumat, 03 Februari 2023

MERTUA, SOSOK AYAH BERSAHAJA PANUTAN JIWA


Fungsi Ayah bagi seorang anak, bukan hanya sebagai tulang punggung dalam mencari nafkah dan pelindung keluarga, melainkan sebagai sosok yang bisa membentuk karakter positif dalam dirinya. Mencari figur idola menjadi keniscayaan bagi setiap anak. Namun tidaklah begitu yang terjadi pada Penulis. Kehilangan sosok Ayah dan Ibu di dua tahun usinya, membuat tumbuh kembangnya diusia anak-anak menuju remaja tak menemukan arah. Masa-masa surampun menimpa, aneka kenakalan remaja menghiasi perilakunya, bermacam dampak psikis bergejolak dalam jiwanya.

Kisah kelam masa lalu tidak membuat penulis tenggelam. Dia berusaha bangkit menuju takdir mubram. Menjerumuskan diri ke dunia pesantren menjadi serpihan kisah indah pertaubatan dan perbaikan diri yang membanggakan. Sosok-sosok idola terpajang jelas dari para guru multi talenta dan ikhlas. Saat itulah hati kecilnya yang yang penuh duka lara, mulai menerima asupan gizi bahagia dan menyadari betapa Tuhan amatlah mudah untuk merubah hati dan nasib setiap hamba-Nya.

Hamparan cita-cita memenuhi relung jiwanya. Mata batinnya selalu berucap bahwa bahagia terlihat jelas di pintu-pintu ilmu yang didapat. Sepuluh tahun menuntut ilmu dari satu tempat ketempat yang lain terasa singkat. Meski ahirnya harus relah terjatuh nikmat dalam pelukan istri tersayang.

mediaguru.id


Hampir tiga puluh tahun Penulis terlelap dalam pencarian figur ayah yang tak kunjung didapat. Ahirnya Tuhan pertemukan Penulis dengan seorang figur maha kuat dalam memberi suri tauladan yang dapat mengantarkan kita pada hakekat penciptaan-Nya. Sebagaimana firman tuhan yang tersirat dalam surat Adz-zariyat ayat 56 yang artinya; ”Dan aku tidak menciptakan jin manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Aktifitas harian Abu Bakar (Ayah mertuanya) hampir sembilan puluh persen tercurahkan untuk ibadah. Selain salat, ngaji dan dzikir ada kegiatan bersih-bersih rumah dan istirahat sebentar untuk membugarkan tubuhnya. Rutinitas siang sebagai pengajar sukarela Madrasah Diniah, sedang malam mengajar ngaji di mushalla. Tak ada kesibukan kerja yang yang secara kasat mata bisa menghasilkan uang untuk keluarga. Hidup miskin, makan dan berpakaian apa adanya menjadi teladan kebersahajaannya.

Dari binar wajahnya, sepertinya tak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya bahwa besok mau makan apa, kedua anaknya yang sekolah mau dikasih uang jajan berapa dan urusan dapur istri mau di beri uang belanja berapa. Dari pasrahnya dalam urusan dunia, seolah ayah berkata aku hanya bekerja kepada Allah dan minta gaji langsung kepada Allah. Dan penulis meyakini bahwa Ayah tenggelam dalam janji Allah sebagaimana yang tertera dalam Al-qur’an Surat Hud Ayat:6 yang artinya;

Dan tiada satupun mahluk yang melata di muka bumi melainkan Allah yang menjamin rizkinya.”

Pada tahun 2006 Penulis resmi menjadi menantu dan berkumpul dengan Ayah. Sebagai santri mellinial, Penulis sempat meneliti dan tak habis pikir dari mana datangnya rizki yang Ayah miliki untuk menghidupi keluarga. Punya hasil tabungan deposito tak mungkin, punya hasil sawah ladang juga engga’, banyak tamu yang suwan layaknya tokoh agama yang lain juga tidak. Penulis lupa bahwa Tuhan senantiasa memberi rizki yang tidak diketahui darimana datangnya (bihaytsu la yahtasib) untuk hamba-Nya yang bertaqwa(QS.at-Thalaq:3).

            Betapa banyak serpihan mutiara tauladan yang Penulis dapat dari ayah, sehingga selama beliu masih hidup lembaran-lembaran ilmu tentang hakekat hidup dan kehidupan setiap waktu bisa jadi pelajaran yang berarti. Lembaran ilmu itu antara lain;

1. Sedikit bicara dan tidak bicara hal yang tidak berfaedah

2. Sabar dan qana’ah melekat dalam kepribadiannya

3. Tidak makan sebelum lapar (sarapan jam dua siang dan makan habis isyak)

4. Mengedepankan uswah dari pada nasehat lisan

5. Tak pernah bosan mendidik keluarga kejalan yang benar

6. Tak terpengaruh dangan gemerlapnya harta dan tahta

7. Mengabdi pada masyarakat sepenuh hati tanpa pamrih

8. Tidak gila hormat

9. Melayani masyarakat tanpa membeda-bedakan strata sosial

10. Tekun beribadah dan berdo’a

            Penulis berharap dan berdo’a semoga bisa mengenang dan menjalankan suri tauladan yang diberikan, dan kami semua dapat barokah ilmunya, amin.

PUSARA BUNDA MEMPERSATUKAN KITA


Setiap irisan takdir yang Tuhan berikan kepada hamba-Nya pasti mengandung butiran mutiara hikmah yang luar biasa. Kemampuan setiap orang untuk memahami sebuah hikmah itu tidaklah sama. Ada yang memiliki kemampuan cepat memahami dan menikmati hikmah itu, ada juga yang lamban dan memaki apa yang  menimpa.

Dari empat bersaudara, Penulis adalah anak yang paling terdampak Tenaga Kerja Wanita (TKW) pemburuh ringgit di Negeri Jiran. Sejak dua tahun usianya hingga dewasa di tinggal orang tua, dengan kesempatan yang dimiliki untuk bertemu sekedar melepas kangen paling cepat lima tahun bahkan delapan tahun sekali. Kondisi pahit seperti ini Saya alami bersama seorang adikku. Sementara dua adikku yang lain lahir dan hidup bersama kedua orang tua di Malaysia.

Setelah kita semua dewasa, kembali takdir menyeret Aku dan Adikku dari Pulau kecil Bawean ke hamparan alam yang semakin luas. Aku kawin dan menetap di ujung Pulau Garam Madura, sementara Adikku kawin ke Tulungagung dan bekerja di Batam. Posisi Batam yang dekat dengan Malaysia, memberi kesempatan Pada Adik untuk mengunjungi Ibu ke Malaysia tiap tahun. Sementara kesempatan yang ku miliki masih seperti dulu.

Goresan takdir yang di titah harus kita terima sepenuh jiwa. Salah satu hikmah yang penulis dapatkan dari jarangnya hidup dan berkumpul dengan orang tua, yakni sedikitnya dosa kepada mereka. Namun sebaliknya, aku adalah anak yang sangat minim berbakti kepada kedua Orang Tua. Meski raga tak pernah bersua tapi hati kita selalu erat terikat dalam untaian do’a yang terangkat.

Ayah, Ibu dan Kedua Adikku semua sudah menjadi Warga Tetap Malaysia. Rumah dan mata pencaharian mereka semua di Malaysia. Mustahil rasanya jika Aku berharap Mereka bisa hidup di tengah-tengah keluargaku. Setiap selesai salat ku tak bosan berdo’a semoga Tuhan masih memberi kesempatan padaku tuk berbakti pada kedua Orang tua dengan cara terbaik-Nya.

Bulan empat tahun 2020 awal-awal corona melanda. Nenekku di Bawean sakit keras. Ibu pada waktu itu langsung memutuskan untuk pulang kampung menjengok Nenek, Aku dan keluarga kecilku juga pulang kampung. Kita semua berjumpa di Bawean dan alhamdulillah Allah memberi kesembuhan pada Nenek. Satu minggu Aku di Bawean, ahirnya Aku dan keluarga kecilku memutuskan untuk kembali ke Madura.

Setelah tiga hari Ibu di Bawean, di Malaysia di tetapkan Luckdown sehingga Ibu tidak bisa kembali sesuai rencana. Inilah awal skenerio Tuhan pada hamba-Nya. Terlalu berat menahan beban perasaan dengan anak-anaknya yang ditinggal di Malaysia membuat Ibu jatuh sakit. semua anak-anaknya memutuskan untuk merujuk Ibu ke rumah sakit Ibnu Sina Gresik setelah dua minggu sebelumnya sudah menjalani perawatan intensif tiga rumah sakit di Pulau Bawean.

Satu minggu di Ibnu Sina, kondisi Ibupun semakin baik dan diperbolehkan rawat jalan. Dengan kondisi Ibu yang masih lemah, aku rembuk dengan keluarga agar Ibu di izinkan untuk aku bawa ke Sumenep Madura. Setelah semua setuju, aku dan Istriku membawa Ibu ke Sumenep.

Tiga hari di rumah kondisi Ibu bukannya membaik, malah semakin memburuk. Akupun buru-buru membawa Ibu ke rumah sakit Pamekasan. Setelah satu minggu menjalani perawatan sesuai standar covid-19, Ibu di nyatakan sehat dan boleh di bawak pulang. Aku dan adikku sangat senang melihat kondisi Ibu yang semakin membaik, Adikpun memutuskan kembali bekerja ke Papua. Sepuluh hari berikutnya Ibu sudah bisa keluar rumah sendiri tanpa di pegang. Keberuntungan telah Allah berikan kepadaku. Do’aku selama ini telah di ijabah. Detik-detik terahir hidupnya berada di pangkuanku. Dua puluh hari kondisi Ibu benar-benar telah pulih. Aku dan istriku tinggal menjaga rutinitas makannya. Keluar masuk jeding sudah bisa sendirian tanpa harus dipegang.

Terjatuh dari pembaringan menjadi penyebab kondisi ibu drop lagi. Semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. Adik yang bekerja di Papua pun kembali pulang. Sementara kedua adikku yang lain tak bisa pulang karena korona. Setelah adik datang, Ibu langsung dilarikan ke rumah sakit PT Garam Kalianget Sumenep. Ibu kembali di bawak pulang setelah tidak ada harapan untuk kesembuhannya, ternyata Ibu sudah menjalani takdirnya untuk menghembuskan nafas terahirnya di tengah-tengah keluargaku persis setelah mobil ambulance yang mengahantarnya kembali.

Jasad itu telah di kebumikan di pemakaman yang dekat dengan keluarga besar Istriku. Saat itulah aku baru sadar bahwa Allah bukan hanya membuka pintu baktinya padaku melainkan juga meng amanahkan pusara Ibu padaku dan keluarga di Madura.

“Tiada yang tau dibumi mana kita akan di kuburkan.” Begitu bunyi penggalan  Alqur’an Surat Lukman ayat 34.

dokumenpribadi.id

 

Pusara akan menjadi pengingat bahwa keberadaan kita di dunia karena keberadaan orang yang ada di dalamnya. Pusara juga akan mengingatkan kita pada kematian yang sama. Pusara juga bisa menjadi pemersatu keluarga yang hidup di lintas pulau bahkan lintas negara, Insya Allah. Do’a padamu aku wajibkan minimal setiap selesai salat lima waktu. Tapi setiap hari jum’at kudatangi pusaramu, bukan untuk menyembah kuburmu tapi untuk menakar betapa keberadaanmu sangat berarti bagiku. Semuga Ibu tenang di surga-Nya. Amin…amin…amin Ya, Mujibassailin.


Minggu, 29 Januari 2023

RUMAH SUCI SURGAWI SIDOGIRI

 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim:6).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Setiap anak yang dilahirkan pasti dalam keadaan fitrah (suci/islam), lalu ayah dan ibunya yang dapat menentukan kelak ia beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.”

Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah juga bersabda:

“ Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang di pimpinnya. Imam (Pemimpin negara) adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya, Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dimintai pertanggung jawaban atas yang di pimpinnya, Dan perempuan itu adalah pemimpin di rumah suaminya dan di mintai pertanggung jawaban atas yang di pimpinnya.”

Satu ayat Alqur’an dan dua hadis di atas setidaknya menjadi dalil yang kuat kenapa orang tua harus memilih lingkungan dan pendidikan yang baik untuk anaknya, agar agama anaknya bisa terjaga dan tanggung ajawab orang tua bisa terpenuhi. Di antara lingkungan dan tempat pendidikan yang paling baik untuk anak adalah Pondok Pesantren.

Apa untungnya memondokkan anak ke Pondok Pesantren? Penulis bisa menjelaskan disini sebagaimana yang tertuang dalam Buku Panduan Wali Santri (Penerbit Sidogiri, Hal;17). Ada 11 keuntungan memondokkan anak ke Pondok pesantren, diantaranya:

1.     Orang tua telah memenuhi tanggungjawab  pendidikan anak khususnya dalam bidang pendidikan agama.

2.     Anak telah memenuhi kewajiban dalam mencari ilmu agama.

3.     Anak belajar ilmu agama langsung kepada para Kiai dan Ustadz yang jelas sanad keilmuannya.

4.     Anak akan mendaptkan ilmu agama yang bisa menyelamatkan dirinya di dunia dan akherat.

5.     Anak hidup dilingkungan pesantren yang kental dengan belajar ilmu agama, ibadah dan akhlak al karimah.

6.     Anak mendapatkan pendidikan dan pengawasan langsung dari para Kiai dan Ustdz.

7.     Anak aman ari pergaulan bebas, obat-obatan terlarang dan kenakalan remaja.

8.     Anak belajar mandiri, sederhana dan hemat.

9.     Anak belajar hidup bermasyarakat, karena kehidupan pesantren adalah miniature kehidupan di masyarakat.

10.  Anak hidup bersama dengan santri laindari berbagai dareah dan suku sehingga dapat memperluas wawasan dan pergaulannya.

11.  Anak menjadi penerus dakwah dan perjuangan para Ulama dan Rasulullah SAW.

Di Indonesia, terdapat puluhan ribu Pondok Pesantren. Bagaimana caranya kita untuk memilih Pondok untuk tempat pendidikan anak? Setidaknya ada enam hal yang harus diperhatikan orangtua dalam menghadapi pilihan yang kadang membingungkan dalam memilih Pondok Pesantren.

1.  Pilih Pondok yang pendidikan lebih tinggi dan lengkap dari pondok lainnya.

Karena anak akan mendapatkan ilmu yang lebih tinggi dan lengkap di pondok tersebut.

2.  Pilih pondok yang citranya baik.

Karena pondok yang citranya baik lebih terjaga dari hal-hal yang di larang agama, sebab di pondok tersebut anak akan belajar wara’ dan menjaga diri dari hal-hal yang di larang agama.

3.  Pilih pondok yang usianya lebih tua.

Pondok yang usianya lebih tua telah terbukti kualitasnya sehingga bisa bertahan lama, telah banyak mengeluarkan alumni yang mumpuni dan lebih berpengalaman dalam mendidik santri.

4.  Pahami Situasi dan Kondisi Pesantren .

Sebaiknya orangtua melihat dan memahami dahulu sistuasi dan kondisi pesantren yang di pilih, agar mendapatkan gambaran yang sebenarnya. Terutama yang berkenaan dengan kurikulum, kegiatan, biaya dan fasilitas pesantren.

5.  Bermusyawarahlah terlebih dahulu, meminta pendapat dan saran kepada Kiai atau Ustadz dan tokoh agama, karena mereka semua lebih memahami situasi dan kondisi pesantren yang sesuai dengan harapan orangtua.

6.  Sebaiknya orangtua tidak terburu-buru dalam memilih guru atau pesantren. Karena jika tidak sesuai dengan harapan, maka akan menyebabkan anak tidak betah sehingga harus berpindah kepada guru atau pesantren lain. Hal ini akan berakibat pada hilangnya kemamfaatan dan keberkahan ilmu yang di peroleh. Disamping itu, banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang karena harus berpindah-pindah guru atau pesantren.

Kenapa harus Sidogiri menjadi Pilihan?

blogger.com


a.  Sejarah Bedirinya PP. Sidogiri

Sidogiri di babat oleh seorang Sayyid dari Cirebon, Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau keturunan Rasulullah dari Marga Basyaiban. Ayahnya, Sayid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari Negeri tarim, Hadramaut, Yaman. Sedangkan Ibunya adalah Syarifah Khodijah, Putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati.

Pesantren yang secara turun temurun di Asuh oleh putera-putera terbaik dari keturunan Rasulullah menjadi alasan pertama kenapa Sidogiri adalah Pesantren yang sangat cocok untuk tempat anaknya menuntut ilmu.

b.  Tahun berdirinya PP.Sidogiri

Ada dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri, yaitu Tahun 1718 dan 1745. Bukti otentik dari keduanya ada, yaitu:

1.    Dalam suatu catatan yang di tulis Panca Warga tahun 1963 yang di tanda tangani KH. Noerhasan Nawawie, KH. Cholil Nawawie, dan KA. Sakdoellah Nawawie di sebutkan bahwa PP. Sidogiri didirikan tahun 1718.

2.    Dalam surat lain tahun 1971 yang di tanda tangani oleh KA. Sakdoellah Nawawie, tertulis bahwa tahun 1971 adalah Hari Ulang Tahun PP. Sidogiri yang ke 226. Dari keterangan ini di simpulkan bahwa Sidogiri berdiri tahun 1745. Dan dalam kenyataan versi kedua inilah yang di jadikan patokan dalam menetapkan hari ulang tahun  PPS setiap akhir tahun.

Terlepas mana yang benar, penulis menyimpulkan bahwa Pesantren Sidogiri yang sudah berumur 274 tahun ini, termasuk salah satu pesantren tertua yang ada di Indonesia. Artinya pengalaman dalam mendidik santri untuk berhasil sesuai dengan visi, misi dan tujuan berdirinya pesantren itu sendiri lebih teruji dan bisa di pertanggungjawabkan.

c.   Penanggungjawab Pondok Pesantren Sidogiri

Sejak awal berdirinya, pengelolaan Pesantren Sidogiri  di pegang oleh Kiai sebagai Pengasuh saja. Kemudian pada kepengasuhan KH. Cholil Nawawie, adik beliau KH.Hasani Nawawie mengusulkan agar dibentuk wadah permusyawaratan keluarga yang dapat membantu tugas-tugas pengasuh di samping pengurus pesantren yang sudah ada.

Setelah usul itu diterima dan di sepakati, maka dibentuklah satu wadah yang diberi nama “Panca Warga.” Anggotanya adalah lima putra laki-laki KH. Nawawie bin Noerhasan, yakni;

1.  KH. Noerhasan Nawawie (wafat 1967)

2.  KH. Cholil Nawawie (wafat 1978)

3.  KH. Siradj Nawawie (wafat 1988)

4.  KA. Sadoellah Nawawi (wafat 1972)

5.  KH. Hasani Nawawie (wafat 2001)

Dalam pernyataan bersamanya, kelima putra Kiai Nawawie ini merasa berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pesantren dan bertanggung jawab mempertahankan asas dan ideologi Pesantren Sidogiri.

Setelah tiga anggota Panca Warga wafat, KH. Siradj Nawawie mempunyai gagasan untuk membentuk wadah baru. Maka dibentuklah organisasi pengganti yang di beri nama “Majlis Keluarga”, dengan anggota terdiri dari cucu-cucu laki-laki KH. Nawawie bin Noerhasan.

Ketua Majlis Keluarga pertama sekaligus Pengasuh adalah KH. Abdul Alim Abd Djalil, sedangkan KH. Siradj Nawawie dan KH. Hasani Nawawie sebagai penasehat.

Anggota majlis Keluarga (sejak tahun 2021 sd sekarang) adalah:

1.  KH. Fuad Noerhasan (Pengasuh, Rais dan Anggota)

2.  D. Nawawy Sadoellah (Katib dan Anggota)

3.  KH. Abdullah Syaukat Siradj Alm. (Anggota)

4.  H. Bahruddin Thoyyib (Anggota)

Urutan pengasuh Sidogiri sampai sekarang adalah sebagai berikut.

Sayyid Sulaiman (pertengahan abad ke-18)

K.H. Aminullah (akhir abad ke-18)

K.H. Abu Dzarrin (awal abad ke-19)

K.H. Mahalli (awal abad ke-19)

K.H. Noerhasan bin Noerkhotim (pertengahan abad ke-19)

K.H. Bahar bin Noerhasan (sampai 1920-an)

K.H. Nawawie bin Noerhasan (sampai 1929)

K.H. Abd. Adzim bin Oerip (1929-1959)

K.H. Abd. Djalil bin Fadlil (1959-1947)

K.H. Cholil Nawawie (1947-1978)

K.H. Abd. Alim Abd. Djalil (1978-2005)

K.H. A. Nawawi Abd. Djalil (2005-2021)

K.H. Fuad Noerhasan (2021-Sekarang)

 

Keberadaan Panca warga/Majlis Keluarga sangat membantu terhadap Pengasuh dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting dalam mengelolah Pesantren. Secara tehnis pengasuh membentuk pengurus di semua bidang sebagai wakil Kiai dalam mengurus Pesantren, sehingga kondisi Pesantren semakin lama semakin maju.

Beberapa alasan di atas telah mendorong Penulis untuk memondokkan anaknya, semoga anaknya kelak menjadi anak yang saleh yang berbakti pada kedua orang tua, nusa, bangsa dan agama.

Disamping beberapa alasan di atas, sebenarnya masih ada dua hal penting yang mendukung Penulis untuk menentukan pilihan lembaga Pondok Pesantren yang akan di jadikan tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anaknya, antara lain:

1.  Perhatian Kiai tidak hanya urusan ilmu, Ibadah dan akhlaq santri, bahkan Kiai juga sangat memperhatikan ekonomi Santri ketika sudah boyong dari Pesantren. Hal ini kita bisa melihat bahwa pegawai BMT dan Pertokoan Basmalah itu hanya di prioritaskan untuk Alumni Santri Sidogiri.

Perhatian Kiai dalam urusan ilmu, ibadah dan akhlaq tidak hanya diberikan kepada Santri aktif, melainkan juga kepada semua Alumni Santri Sidogiri. Hal ini terbukti dan sangat tampak jelas dengan Kegiatan Subuh Berjamaah dan Pengajian Kitab Sidogiri yang di hadiri langsung oleh Kiai di seluruh Kabupaten se Indonesia bahkan Para Alumni yang ada di Malaysia.

Semoga kita semua senantiasa diakui sebagai santrinya, Amin!

Featured Post

KEKUATAN KARAKTER YANG LAHIR DARI SIFAT SABAR DAN TAWADLU’ (Edisi Lanjutan......!)

35. Mind Set (Pola Pikir)   Tikungan maut kolam bertanggul  Berguling mobil bermotif batik  Lingkungan baik dalam bergaul  Menggiring kita h...